Kenapa pendokong Islam Liberal bela Salman Rusdie ?

Oleh: Dr. Adian Husaini

PADA 26 Jun 2007, Harian Media Indonesia menerbitkan artikel Luthfi Assyaukani, salah satu aktivis Jaringan Islam Liberal(JIL), berjudul “Salman Rushdie dan Citra Islam”. Melalui artikel ini, penulisnya mengecam gelombang protes kaum muslimin di atas penganugerahan gelar bangsawan Inggeris (Sir) kepada Salman Rushdie, pengarang novel ‘Ayat-Ayat Setan’ yang sangat menyinggung perasaan kaum Muslim.

Menurut Luthfi, penulisan novel seperti ‘Ayat-Ayat Setan’ adalah sebahagian dari kebebasan berekspresi(berpendapat) yang seharusnya tidak perlu dihukum secara emosional. “Reaksi kaum Muslim terhadap kebebasan berekspresi nampaknya memiliki pola yang sama: membangkit kemarahan dan kekerasan.”

Lebih jauh dia membandingkan respon kaum Muslim itu dengan sikap kaum Kristian terhadap penodaan agama. “Apalagi jika kita membandingkan respon kaum Muslim dengan respon sama dalam dunia Kristian atau agama-agama lain, kelihatan jelas bahawa kaum Muslim nampak sangat berlebihan,” tulisnya lagi.

Luthfi mengaku tidak selesa melihat reaksi kaum Muslim terhadap masalah kebebasan berekspresi. Dia katakan: “Kita tidak ingin menjadi komuniti agama yanganeh bersendirian di dunia ini. Agama-agama lain memiliki sikap yang  jauh lebih baik jika dibandingkan dengan reaksi-reaksi yang diperlihatkan oleh kaum Muslim selama ini dalam setiap isu yang menyentuh tentang kebebasan berekspresi atau kebebasan berpendapat.”

“Setiap kali ada kes-kes yang menyangkut kebebasan berekspresi yang menimpa Islam, saya selalu merasa was was dengan reaksi yang akan muncul. Beberapa hari lalu, saya benar-benar terhina dan malu dengan pertanyaan seorang teman non-Muslim: “Bukankah Islam agama pemaaf? Bukankah Tuhan Maha Pengasih? Kenapa setelah 20 tahun kaum Muslim masih terus saja membenci Rushdie?”

Demikian tulis Luthfi Assyaukanie.

LuthfiAssyaukanie

Luthfi Assyaukanie. Lihat siapa penaja di belakangnya, KAF atau KAS (Konrad Adenauer Foundation atau
Konrad Stiftung). KAF ini juga salah satu penaja Anwar di Malaysia

Siapakah Salman Rushdie? Nama Salman Rushdie muncul ketika pada 26 November 1988, Viking Penguin menerbitkan novelnya berjudul “The Satanic Verses” (Ayat-ayat Setan). Novel ini segera membangkitkan kemarahan umat Islam yang luar biasa di seluruh dunia.

Novel ini memang sungguh amat biadab. Rushdie menulis tentang Nabi Muhammad saw, Nabi Ibrahim, isteri-isteri Nabi (ummahatul mukminin) dan juga para sahabat Nabi dengan menggunakan kata-kata kotor yang sangat menjijikkan. Tahun 2008 lalu, saya membeli novel ini dalam edisi bahasa Inggeris di sebuah toko buku di Jakarta.

Dalam novel setebal 547 halaman ini, Nabi Muhammad saw, misalnya, ditulis oleh Rushdie sebagai “Mahound, most pragmatic of Prophets.” Digambarkan sebuah lokasi pelacuran bernama ‘The Curtain’, Hijab, yang dihuni pelacur-pelacur yang tidak lain adalah isteri-isteri Nabi Muhammad saw. Isteri Nabi yang mulia, Aisyah r.a., misalnya, ditulis oleh Rushdie sebagai “pelacur berusia 15 tahun.” (The fifteen-year-old whore ‘Ayesha’ was the most popular with the paying public, just as her namesake was with Mahound). (hal. 381).

Ramai penulis Muslim menyatakan, tidak sanggup mengutip kata-kata kotor dan biadab yang digunakan Rushdie dalam memperlecehkan dan menghina Nabi Muhammad saw dan isteri-isteri beliau yang tidak lain adalah ummahatul mukminin. Maka, reaksi pun tidak dapat dihindarkan.

Fatwa Khomeini pada 14 Februari 1989 menyatakan: Salman Rushdie telah memperlecehkan Islam, Nabi Muhammad dan al-Quran. Semua pihak yang terlibat dalam penerbitannya yang sedar akan isi novel tersebut, harus dihukum mati.

Pada 26 Februari 1989, Rabithah Alam Islami dalam sidangnya di Mekkah, yang dipimpin oleh ulama terkemuka Arab Saudi, Abd Aziz bin Baz, mengeluarkan pernyataan, bahawa Rushdie adalah orang murtad dan harus diadili secara in absentia (secara lengkap) di satu negara Islam dengan hukum Islam.

Pertemuan Menteri luar Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada 13-16 Mac 1989 di Riyadh juga menyebut novel Rushdie sebagai bentuk penyimpangan terhadap Kebebasan Berekspresi. Prof. Alaeddin Kharufa, pakar syariah dari Muhammad Ibn Saud University, menulis sebuah buku khusus berjudul “Hukm Islam fi Jaraim Salman Rushdie”. Ia mengupas panjang lebar pandangan pelbagai mazhab terhadap pelaku tindakan memperlecehkan terhadap Nabi Muhammad saw. Menurut Kharufa, jika Rushdie menolak untuk bertaubat, maka setiap muslim wajib menangkapnya selama mana, dia masih hidup.

Prof. Mohammad Hashim Kamali, dalam bukunya “Freedom of Expression in Islam”, (Selangor: Ilmiah Publishers, 1998), menulis cara Rushdie menggambarkan isteri-isteri Rasulullah saw sebagai “simply too outrageous and far below the standards of civilised discourse.” Penghinaan Rushdie terhadap Allah dan al-Quran, tulis Hasim Kamali, “are not only blasphemous but also flippant.”

Manusia yang tindakannya begitu biadab terhadap Nabi Muhammad saw dan isteri-isteri beliau itulah, yang kemudian dianugerahi gelaran kebangsawanan oleh British. Seorang yang di mata umat Islam dicap sebagai penjahat besar, disanjung dan diberi penghargaan. Dan saat umat Islam bereaksi, membela kehormatan Nabinya yang mulia, umat Islam lalu dituduh reaksioner, emosional, yang dalam istilah Luthfi Assyaukani disebut: “kelihatan betul bahawa kaum Muslim nampak sangat berlebihan.”

Di bulan Rabi’ulawwal 1431 Hijriah, bulan kelahiran Nabi Muhammad saw, seorang aktivis liberal membuat pernyataan yang mengherankan. Hari itu, Rabu (17 Feb 2010), sebagai saksi ahli pihak penggugat kes Undang-undang Penodaan Agama, UU No. 1/PNPS/1965, Luthfi Assyaukanie membuat pernyataan berikut :

“Setiap kemunculan agama selalu diiringi dengan ketegangan dan tuduhan yang sangat menyakitkan dan seringkali melukai rasa kemanusiaan kita. Ketika Rasulullah Muhammad SAW mengaku sebagai nabi, masyarakat Mekah tidak boleh menerimanya. Mereka menuduh nabi sebagai orang gila dan melemparkannya dengan kotoran unta. Para pengikut nabi dikejar-kejar, disiksa dan bahkan dibunuh seperti yang terjadi pada Bilal bin Rabah sang muadzin dan keluarga Amar bin Yasar. Hal serupa juga terjadi pada Lia Aminuddin(Wanita Indonesia) ketika dia mengaku sebagai nabi dan mengakui sebagai jibril. Orang menganggapnya telah gila dan sebahagiannya mendesak pemerintah untuk menangkap dan memenjarakannya. Kesalahan Lia Aminuddin persis sama dengan kesalahan Kanjeng (Paduka Tuan) Nabi Muhammad, yang meyakini suatu ajaran dan berusaha untuk menyebarluaskannya.” (Dikutip dari Risalah Sidang Mahkamah Konstitusi, www.mahkamahkonstitusi.go.id).

Di beberapa media, Luthfi Assyaukanie yang juga dikenali sebagai aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) ini diberitakan mengaku, menyampaikan ungkapannya dengan penuh kesedaran. Bahkan, ia mengaku sempat menyemak draf untuk MK hingga beberapa kali. Menurutnya, Islam pada awalnya adalah salah, menurut orang Quraisy. Muhammad lalu dikejar-kejar oleh kelompok majoriti kaum Quraisy itu. Lalu, hal yang sama terjadi sekarang kepada kes Lia Eden. Itulah pendapat Luthfi Assyaukanie, yang juga seorang doktor studi Islam, lulusan Melbourne University.

Dalam keyakinan kaum muslim, Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir. Beliau seorang yang pintar, jujur, amanah, dan menyampaikan risalah Allah SWT kepada semua manusia. Beliau adalah uswah hasanah, suri tauladan yang baik. Beliau diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Kaum muslimin sangat mencintai Nabi Muhammad saw. Selama 24 jam, ratusan juga kaum Muslim di seluruh dunia tidak berhenti berdoa untuk Sang Nabi yang sangat mulia ini. Bahkan, tidak sedikit, kaum muslim rela mati demi kehormatan Sang Nabi itu.

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah menulis sebuah kitab khusus berjudul “Ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul”. (Pedang Yang Terhunus untuk Pencela Nabi). Kitab ini merakam pendapat semua mazhab tentang kedudukan orang yang memperlecehkan Nabi Muhammad saw. Sahabat-sahabat Nabi saw bersedia menjadi perisai kepada Sang Nabi demi untuk melindunginya dari serangan panah kaum kafir di medan Perang Uhud. Selawat untuk Sang Nabi, kekasih dan utusan Allah, menjadi rukun sah untuk solat setiap muslim.

Logiknya, menghina presiden atau raja saja ada hukumannya. Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) pernah marah kerana diserupakan dengan seekor kerbau oleh para demonstran. Kerana, SBY bukan kerbau, dan tidak patut disamakan dengan kerbau. Meskipun ada beberapa persamaan antara SBY dengan kerbau. SBY memiliki dua mata. Kerbau juga bermata dua. SBY mulutnya satu. Kerbau juga bermulut satu. Tetapi, menyamakan SBY dengan kerbau
adalah tindakan yang sangat melampau. Presiden SBY juga tidak dapat menerima apabila dikatakan mempunyai isteri lagi dan sempat membawa kes itu ke mahkamah.

Jika menghina Presiden saja ada hadnya, bagaimana dengan penghinaan kepada utusan Allah, Tuhan yang mencipta alam semesta? Utusan Presiden saja harus dihormati; apalagi utusan Allah. Jika ada yang mengaku sebagai utusan Presiden, padahal dia berbohong, maka patutlah ia diberi hukuman. Bagaimana dengan orang yang mengaku sebagai utusan Allah, padahal dia adalah penipu?!

Bagi orang muslim, persoalan dasar seperti ini sudah jelas sejak awal. Seorang yang disebut muslim kerana dia membaca dan meyakini syahadat: bahawa Tidak ada Tuhan selain Allah dan bahawa Muhammad adalah utusan Allah. Jika orang tidak mengakui Muhammad saw sebagai Nabi, maka jelas dia bukan muslim. Tentulah, mengimani Sang Nabi itu ada konsekuensinya. Kaum Yahudi dan Nasrani menolak mengakui kenabian Muhammad saw, setelah datang bukti-bukti yang jelas kepada mereka. Sebab, mengakui kenabian Muhammad saw memiliki konsekuensi yang berat bagi mereka.

Sebahagian masyarakat Madinah ketika itu ada juga yang berpura-pura beriman, tetapi mereka sangat membenci Nabi Muhammad saw. Bahkan, mereka tak henti-hentinya mencerca, menfitnah, dan berusaha mencelaka Nabi Muhammad saw. Manusia-manusia yang mengaku Islam tetapi hatinya sangat membenci Islam itulah yang disebut kaum munafik, yang ciri-cirinya banyak disebutkan dalam al-Quran. Manusia pasti masuk dalam salah satu dari tiga kategori ini: Mukmin, kafir, dan munafik. (QS al-Baqarah: 2-20). Tentunya, kita berharap, masuk dalam kategori mukmin, yang yakin akan kenabian Muhammad saw, mencintai beliau, menghormati beliau, dan berusaha sekuat tenaga kita untuk menjadikan beliau sebagai suri tauladan kita sehari-hari.

Dalam perspektif inilah, wajar jika ada yang bengong ketika menyemak pidato seorang yang mengaku Islam, tetapi berani menista Nabi Muhammad saw, menyamakan derajat Nabi yang mulia dengan Lia Eden. Padahal, untuk Sang Nabi saw, setiap saat umat Islam dan para Malaikat pun membacakan shalawat untuknya. Hinaan dan cercaan itu dilakukan atas nama “Kebebasan Beragama”.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/ms/thumb/c/ca/Lia_Eden.jpg/220px-Lia_Eden.jpgTahun 2007, Lia Eden (foto kanan) mengaku sebagai Malaikat Jibril dan mengancam akan mencabut nyawa Ketua Mahkamah Agung RI, Prof. Bagir Manan. Dalam satu suratnya bertarikh 25 November 2007, Lia Eden, menulis: “Atas nama
Tuhan Yang Maha Kuat. Aku Malaikat Jibril adalah hakim Allah di Mahkamah Agungnya… Akulah Malaikat Jibril yang akan mencabut nyawamu. Atas Penunjuk Tuhan, kekuatan Kerajaan Tuhan dan Mahkamah Agung Tuhan berada di tanganku.”

Tahun 2003, Lia Eden masih mengaku “berkasih-kasihan dengan Melaikat Jibril”. Dalam bukunya, Ruhul Kudus (2003), sub judul ”Seks di syurga”, diceritakan kisah percintaan dan perkawinan antara Jibril dengan Lia Eden: ”Lia kini telah mengubah
namanya atas seizin Tuhannya, iaitu Lia Eden. Berkat atas namanya yang baru itu. Kerana dialah simbol kebahagiaan syurga Eden. Berkasih-kasihan dengan Malaikat Jibril secara nyata di hadapan semua orang. Semua orang akan melihat wajahnya yang kemerah-merahan kerana rayuanku padanya. Aku membuatkannya lagu cinta dan puisi yang menawan. Syurga suami isteri pun dinikmatinya.”

Manusia seperti Lia Edeninilah yang dikatakan telah melakukan kesalahan sama dengan yang dilakukan Nabi Muhammad saw. Bagaimanakah mungkin orang yang mengaku Islam boleh berkata seperti itu? Lia Eden adalah pembohong. Sedangkan Nabi Muhammad tidak pernah berbohong sepanjang hidupnya. Lia ditolak oleh umat Islam. Nabi Muhammad saw ditolak oleh kaum kafir. Nabi Muhammad saw adalah Nabi sejati. Beliau tidak salah. Lia Eden adalah nabi palsu. Dia sangat jelas salah. Bukan hanya itu, Lia Eden telah bersikap tidak beradab, kerana mengaku mendapatkan wahyu dari Jibril dan akhirnya mengaku sebagai Malaikat Jibril.

Kini, atas nama “Kebebasan Beragama”, sekelompok orang menuntut agar di Indonesia tidak ada lagi peraturan yang menghukum satu aliran sesat atau tidak. Bahkan, Lia Eden disetarakan kedudukannya dengan Nabi Muhammad saw. Padahal,Nabi Muhammad saw adalah Nabi sejati.

Menurut kaum pemuja paham Kebebasan, keyakinan keagamaan seseorang harus dilindungi, kerana itu masuk dalam arena “forum internum” (ruang individu). Yang boleh dibatasi oleh negara hanyalah “forum externum”(ruang umum/publik). Selama mana tidak mengganggu ketertiban umum, misalnya, maka hak untuk mengekspresikan keyakinan keagamaan seseorang harus dilindungi. Keyakinan dan hak kaum Ahmadiyah untuk mengekspresikan dan menyebarkan ajaran agamanya harus dilindungi, sebab mereka juga manusia yang punya hak yang sama dengan kaum beragama lainnya.

Di sinilah letak nilai tidak masuk akalnya logik kaum pemuja paham Kebebasan ini. Mereka hendak memaksakan agar semua kaum Muslim bersikap “neutral agama” dalam melihat sesuatu. Ketika melihat soal agama, meskipun secara formal mengaku muslim, golongan ini melepaskan dirinya dari keislamannya sendiri. Dia berfikir dan bersikap neutral. Dia tidak mahu menentukan mana yang salah dan mana yang benar. Semuanya dianggap sama. Tidak ada istilah mukmin, kafir, muslim, sesat, dan sebagainya. Bagi mereka, semuanya sama. Yang penting agama. Maka, tidak aneh, jika mereka akan sampai kepada kesimpulan, bahawa kedudukan Nabi Muhammad saw disamakan dengan Lia Eden, Mirza Ghulam Ahmad, Mosadeg, dan nabi-nabi palsu lainnya.

Bagi kelompok seperti ini, yang terpenting adalah “Kebebasan”, bukan Kebenaran. Tentu saja, fahaman ini sangat rosak. Jika seorang menganut fahaman seperti ini, bubarlah ‘Islamic worldview’ atau pandangan-alam Islam-nya.

Pandangan alam, menurut Prof. Muhammad Naquib al-Attas adalah “Islamic vision on truth and reality”. Seorang muslim pasti memiliki pandangan-alam yang berbeza dengan orang kafir. Bagi seorang muslim, Muhammad saw adalah seorang Nabi yang ma’sum. Maka, wahyu yang disampaikan oleh Allah kepada beliau (al-Quran) adalah benar. Bagi kaum Yahudi, Muhammad saw bukanlah Nabi, tetapi pembohong, kerana mengaku menerima wahyu yang ditulisnya dari sumber kitab-kitab Yahudi. Kerana itulah, Dr. Abraham Geiger, seorang tokoh Yahudi Liberal, menulis buku “What did Muhammad Borrow from Judaism”.

Kaum Nasrani pasti juga tidak mengakui Muhammad saw sebagai Nabi dan al-Quran sebagai wahyu. Sebab, jika mereka mengakui itu, sama seperti dengan menyatakan, bahawa agama mereka adalah salah.

Kerana al-Quranlah, satu-satunya Kitab yang secara sangat terperinci menjelaskan kekeliruan fahaman keagamaan kaum Yahudi dan Nasrani. Hanya al-Quranlah satu-satunya Kitab Suci yang menegaskan posisi Nabi Isa a.s. sebagai Nabi dan Rasul Allah, bukan sebagai Tuhan, anak Tuhan, atau salah satu dari Tiga Orang dalam Triniti.

Kerana itu, dalam perspektif Islamic worldview ini, kita sering kebingungan dengan posisi kaum Pemuja Kebebasan, dimanakah sebenarnya posisi mereka? Islam bukan; Kristian bukan, Yahudi bukan; Hindu, Buddha juga bukan! Lalu di mana posisi mereka?

Posisi mereka adalah neutral agama. Posisi tidak beragama. Ertinya, meskipun mereka mengaku beragama, tetapi mereka tidak mahu menggunakan ajaran agamanya sebagai dasar untuk memandang atau menilai realiti kehidupan. Agama adalah urusan peribadi antara dirinya dengan Tuhan. Agama adalah laksana baju. Bila-bila saja boleh ditukar atau diganti. Ketika masuk istana atau ruang sidang parlimen, agama harus diletak di luar ruangan. Jangan dibawa masuk. Ketika mengajar falsafah, agama jangan dibawa. Sebab, falsafah adalah berfikiran bebas, sebebas-bebasnya di luar batas agama. Ketika membahas masalah kebebasan, agama juga harus disingkirkan. Fahaman seperti inilah yang dipuja-puja dan dibanggakan, yang katanya melahirkan manusia hebat dan bermartabat.

Dalam perspektif Islam, fahaman neutral agama jelas keliru.

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE