Kenapa pendokong Islam Liberal bela Salman Rusdie ?

Oleh: Dr. Adian Husaini

PADA 26 Jun 2007, Harian Media Indonesia menerbitkan artikel Luthfi Assyaukani, salah satu aktivis Jaringan Islam Liberal(JIL), berjudul “Salman Rushdie dan Citra Islam”. Melalui artikel ini, penulisnya mengecam gelombang protes kaum muslimin di atas penganugerahan gelar bangsawan Inggeris (Sir) kepada Salman Rushdie, pengarang novel ‘Ayat-Ayat Setan’ yang sangat menyinggung perasaan kaum Muslim.

Menurut Luthfi, penulisan novel seperti ‘Ayat-Ayat Setan’ adalah sebahagian dari kebebasan berekspresi(berpendapat) yang seharusnya tidak perlu dihukum secara emosional. “Reaksi kaum Muslim terhadap kebebasan berekspresi nampaknya memiliki pola yang sama: membangkit kemarahan dan kekerasan.”

Lebih jauh dia membandingkan respon kaum Muslim itu dengan sikap kaum Kristian terhadap penodaan agama. “Apalagi jika kita membandingkan respon kaum Muslim dengan respon sama dalam dunia Kristian atau agama-agama lain, kelihatan jelas bahawa kaum Muslim nampak sangat berlebihan,” tulisnya lagi.

Luthfi mengaku tidak selesa melihat reaksi kaum Muslim terhadap masalah kebebasan berekspresi. Dia katakan: “Kita tidak ingin menjadi komuniti agama yanganeh bersendirian di dunia ini. Agama-agama lain memiliki sikap yang  jauh lebih baik jika dibandingkan dengan reaksi-reaksi yang diperlihatkan oleh kaum Muslim selama ini dalam setiap isu yang menyentuh tentang kebebasan berekspresi atau kebebasan berpendapat.”

“Setiap kali ada kes-kes yang menyangkut kebebasan berekspresi yang menimpa Islam, saya selalu merasa was was dengan reaksi yang akan muncul. Beberapa hari lalu, saya benar-benar terhina dan malu dengan pertanyaan seorang teman non-Muslim: “Bukankah Islam agama pemaaf? Bukankah Tuhan Maha Pengasih? Kenapa setelah 20 tahun kaum Muslim masih terus saja membenci Rushdie?”

Demikian tulis Luthfi Assyaukanie.

LuthfiAssyaukanie

Luthfi Assyaukanie. Lihat siapa penaja di belakangnya, KAF atau KAS (Konrad Adenauer Foundation atau
Konrad Stiftung). KAF ini juga salah satu penaja Anwar di Malaysia

Siapakah Salman Rushdie? Nama Salman Rushdie muncul ketika pada 26 November 1988, Viking Penguin menerbitkan novelnya berjudul “The Satanic Verses” (Ayat-ayat Setan). Novel ini segera membangkitkan kemarahan umat Islam yang luar biasa di seluruh dunia.

Novel ini memang sungguh amat biadab. Rushdie menulis tentang Nabi Muhammad saw, Nabi Ibrahim, isteri-isteri Nabi (ummahatul mukminin) dan juga para sahabat Nabi dengan menggunakan kata-kata kotor yang sangat menjijikkan. Tahun 2008 lalu, saya membeli novel ini dalam edisi bahasa Inggeris di sebuah toko buku di Jakarta.

Dalam novel setebal 547 halaman ini, Nabi Muhammad saw, misalnya, ditulis oleh Rushdie sebagai “Mahound, most pragmatic of Prophets.” Digambarkan sebuah lokasi pelacuran bernama ‘The Curtain’, Hijab, yang dihuni pelacur-pelacur yang tidak lain adalah isteri-isteri Nabi Muhammad saw. Isteri Nabi yang mulia, Aisyah r.a., misalnya, ditulis oleh Rushdie sebagai “pelacur berusia 15 tahun.” (The fifteen-year-old whore ‘Ayesha’ was the most popular with the paying public, just as her namesake was with Mahound). (hal. 381).

Ramai penulis Muslim menyatakan, tidak sanggup mengutip kata-kata kotor dan biadab yang digunakan Rushdie dalam memperlecehkan dan menghina Nabi Muhammad saw dan isteri-isteri beliau yang tidak lain adalah ummahatul mukminin. Maka, reaksi pun tidak dapat dihindarkan.

Fatwa Khomeini pada 14 Februari 1989 menyatakan: Salman Rushdie telah memperlecehkan Islam, Nabi Muhammad dan al-Quran. Semua pihak yang terlibat dalam penerbitannya yang sedar akan isi novel tersebut, harus dihukum mati.

Pada 26 Februari 1989, Rabithah Alam Islami dalam sidangnya di Mekkah, yang dipimpin oleh ulama terkemuka Arab Saudi, Abd Aziz bin Baz, mengeluarkan pernyataan, bahawa Rushdie adalah orang murtad dan harus diadili secara in absentia (secara lengkap) di satu negara Islam dengan hukum Islam.

Pertemuan Menteri luar Organisasi Konferensi Islam (OKI) pada 13-16 Mac 1989 di Riyadh juga menyebut novel Rushdie sebagai bentuk penyimpangan terhadap Kebebasan Berekspresi. Prof. Alaeddin Kharufa, pakar syariah dari Muhammad Ibn Saud University, menulis sebuah buku khusus berjudul “Hukm Islam fi Jaraim Salman Rushdie”. Ia mengupas panjang lebar pandangan pelbagai mazhab terhadap pelaku tindakan memperlecehkan terhadap Nabi Muhammad saw. Menurut Kharufa, jika Rushdie menolak untuk bertaubat, maka setiap muslim wajib menangkapnya selama mana, dia masih hidup.

Prof. Mohammad Hashim Kamali, dalam bukunya “Freedom of Expression in Islam”, (Selangor: Ilmiah Publishers, 1998), menulis cara Rushdie menggambarkan isteri-isteri Rasulullah saw sebagai “simply too outrageous and far below the standards of civilised discourse.” Penghinaan Rushdie terhadap Allah dan al-Quran, tulis Hasim Kamali, “are not only blasphemous but also flippant.”

Manusia yang tindakannya begitu biadab terhadap Nabi Muhammad saw dan isteri-isteri beliau itulah, yang kemudian dianugerahi gelaran kebangsawanan oleh British. Seorang yang di mata umat Islam dicap sebagai penjahat besar, disanjung dan diberi penghargaan. Dan saat umat Islam bereaksi, membela kehormatan Nabinya yang mulia, umat Islam lalu dituduh reaksioner, emosional, yang dalam istilah Luthfi Assyaukani disebut: “kelihatan betul bahawa kaum Muslim nampak sangat berlebihan.”

Di bulan Rabi’ulawwal 1431 Hijriah, bulan kelahiran Nabi Muhammad saw, seorang aktivis liberal membuat pernyataan yang mengherankan. Hari itu, Rabu (17 Feb 2010), sebagai saksi ahli pihak penggugat kes Undang-undang Penodaan Agama, UU No. 1/PNPS/1965, Luthfi Assyaukanie membuat pernyataan berikut :

“Setiap kemunculan agama selalu diiringi dengan ketegangan dan tuduhan yang sangat menyakitkan dan seringkali melukai rasa kemanusiaan kita. Ketika Rasulullah Muhammad SAW mengaku sebagai nabi, masyarakat Mekah tidak boleh menerimanya. Mereka menuduh nabi sebagai orang gila dan melemparkannya dengan kotoran unta. Para pengikut nabi dikejar-kejar, disiksa dan bahkan dibunuh seperti yang terjadi pada Bilal bin Rabah sang muadzin dan keluarga Amar bin Yasar. Hal serupa juga terjadi pada Lia Aminuddin(Wanita Indonesia) ketika dia mengaku sebagai nabi dan mengakui sebagai jibril. Orang menganggapnya telah gila dan sebahagiannya mendesak pemerintah untuk menangkap dan memenjarakannya. Kesalahan Lia Aminuddin persis sama dengan kesalahan Kanjeng (Paduka Tuan) Nabi Muhammad, yang meyakini suatu ajaran dan berusaha untuk menyebarluaskannya.” (Dikutip dari Risalah Sidang Mahkamah Konstitusi, www.mahkamahkonstitusi.go.id).

Di beberapa media, Luthfi Assyaukanie yang juga dikenali sebagai aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) ini diberitakan mengaku, menyampaikan ungkapannya dengan penuh kesedaran. Bahkan, ia mengaku sempat menyemak draf untuk MK hingga beberapa kali. Menurutnya, Islam pada awalnya adalah salah, menurut orang Quraisy. Muhammad lalu dikejar-kejar oleh kelompok majoriti kaum Quraisy itu. Lalu, hal yang sama terjadi sekarang kepada kes Lia Eden. Itulah pendapat Luthfi Assyaukanie, yang juga seorang doktor studi Islam, lulusan Melbourne University.

Dalam keyakinan kaum muslim, Nabi Muhammad saw adalah nabi terakhir. Beliau seorang yang pintar, jujur, amanah, dan menyampaikan risalah Allah SWT kepada semua manusia. Beliau adalah uswah hasanah, suri tauladan yang baik. Beliau diutus untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Kaum muslimin sangat mencintai Nabi Muhammad saw. Selama 24 jam, ratusan juga kaum Muslim di seluruh dunia tidak berhenti berdoa untuk Sang Nabi yang sangat mulia ini. Bahkan, tidak sedikit, kaum muslim rela mati demi kehormatan Sang Nabi itu.

Syaikhul Islam Ibn Taimiyah menulis sebuah kitab khusus berjudul “Ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul”. (Pedang Yang Terhunus untuk Pencela Nabi). Kitab ini merakam pendapat semua mazhab tentang kedudukan orang yang memperlecehkan Nabi Muhammad saw. Sahabat-sahabat Nabi saw bersedia menjadi perisai kepada Sang Nabi demi untuk melindunginya dari serangan panah kaum kafir di medan Perang Uhud. Selawat untuk Sang Nabi, kekasih dan utusan Allah, menjadi rukun sah untuk solat setiap muslim.

Logiknya, menghina presiden atau raja saja ada hukumannya. Presiden SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) pernah marah kerana diserupakan dengan seekor kerbau oleh para demonstran. Kerana, SBY bukan kerbau, dan tidak patut disamakan dengan kerbau. Meskipun ada beberapa persamaan antara SBY dengan kerbau. SBY memiliki dua mata. Kerbau juga bermata dua. SBY mulutnya satu. Kerbau juga bermulut satu. Tetapi, menyamakan SBY dengan kerbau
adalah tindakan yang sangat melampau. Presiden SBY juga tidak dapat menerima apabila dikatakan mempunyai isteri lagi dan sempat membawa kes itu ke mahkamah.

Jika menghina Presiden saja ada hadnya, bagaimana dengan penghinaan kepada utusan Allah, Tuhan yang mencipta alam semesta? Utusan Presiden saja harus dihormati; apalagi utusan Allah. Jika ada yang mengaku sebagai utusan Presiden, padahal dia berbohong, maka patutlah ia diberi hukuman. Bagaimana dengan orang yang mengaku sebagai utusan Allah, padahal dia adalah penipu?!

Bagi orang muslim, persoalan dasar seperti ini sudah jelas sejak awal. Seorang yang disebut muslim kerana dia membaca dan meyakini syahadat: bahawa Tidak ada Tuhan selain Allah dan bahawa Muhammad adalah utusan Allah. Jika orang tidak mengakui Muhammad saw sebagai Nabi, maka jelas dia bukan muslim. Tentulah, mengimani Sang Nabi itu ada konsekuensinya. Kaum Yahudi dan Nasrani menolak mengakui kenabian Muhammad saw, setelah datang bukti-bukti yang jelas kepada mereka. Sebab, mengakui kenabian Muhammad saw memiliki konsekuensi yang berat bagi mereka.

Sebahagian masyarakat Madinah ketika itu ada juga yang berpura-pura beriman, tetapi mereka sangat membenci Nabi Muhammad saw. Bahkan, mereka tak henti-hentinya mencerca, menfitnah, dan berusaha mencelaka Nabi Muhammad saw. Manusia-manusia yang mengaku Islam tetapi hatinya sangat membenci Islam itulah yang disebut kaum munafik, yang ciri-cirinya banyak disebutkan dalam al-Quran. Manusia pasti masuk dalam salah satu dari tiga kategori ini: Mukmin, kafir, dan munafik. (QS al-Baqarah: 2-20). Tentunya, kita berharap, masuk dalam kategori mukmin, yang yakin akan kenabian Muhammad saw, mencintai beliau, menghormati beliau, dan berusaha sekuat tenaga kita untuk menjadikan beliau sebagai suri tauladan kita sehari-hari.

Dalam perspektif inilah, wajar jika ada yang bengong ketika menyemak pidato seorang yang mengaku Islam, tetapi berani menista Nabi Muhammad saw, menyamakan derajat Nabi yang mulia dengan Lia Eden. Padahal, untuk Sang Nabi saw, setiap saat umat Islam dan para Malaikat pun membacakan shalawat untuknya. Hinaan dan cercaan itu dilakukan atas nama “Kebebasan Beragama”.

http://upload.wikimedia.org/wikipedia/ms/thumb/c/ca/Lia_Eden.jpg/220px-Lia_Eden.jpgTahun 2007, Lia Eden (foto kanan) mengaku sebagai Malaikat Jibril dan mengancam akan mencabut nyawa Ketua Mahkamah Agung RI, Prof. Bagir Manan. Dalam satu suratnya bertarikh 25 November 2007, Lia Eden, menulis: “Atas nama
Tuhan Yang Maha Kuat. Aku Malaikat Jibril adalah hakim Allah di Mahkamah Agungnya… Akulah Malaikat Jibril yang akan mencabut nyawamu. Atas Penunjuk Tuhan, kekuatan Kerajaan Tuhan dan Mahkamah Agung Tuhan berada di tanganku.”

Tahun 2003, Lia Eden masih mengaku “berkasih-kasihan dengan Melaikat Jibril”. Dalam bukunya, Ruhul Kudus (2003), sub judul ”Seks di syurga”, diceritakan kisah percintaan dan perkawinan antara Jibril dengan Lia Eden: ”Lia kini telah mengubah
namanya atas seizin Tuhannya, iaitu Lia Eden. Berkat atas namanya yang baru itu. Kerana dialah simbol kebahagiaan syurga Eden. Berkasih-kasihan dengan Malaikat Jibril secara nyata di hadapan semua orang. Semua orang akan melihat wajahnya yang kemerah-merahan kerana rayuanku padanya. Aku membuatkannya lagu cinta dan puisi yang menawan. Syurga suami isteri pun dinikmatinya.”

Manusia seperti Lia Edeninilah yang dikatakan telah melakukan kesalahan sama dengan yang dilakukan Nabi Muhammad saw. Bagaimanakah mungkin orang yang mengaku Islam boleh berkata seperti itu? Lia Eden adalah pembohong. Sedangkan Nabi Muhammad tidak pernah berbohong sepanjang hidupnya. Lia ditolak oleh umat Islam. Nabi Muhammad saw ditolak oleh kaum kafir. Nabi Muhammad saw adalah Nabi sejati. Beliau tidak salah. Lia Eden adalah nabi palsu. Dia sangat jelas salah. Bukan hanya itu, Lia Eden telah bersikap tidak beradab, kerana mengaku mendapatkan wahyu dari Jibril dan akhirnya mengaku sebagai Malaikat Jibril.

Kini, atas nama “Kebebasan Beragama”, sekelompok orang menuntut agar di Indonesia tidak ada lagi peraturan yang menghukum satu aliran sesat atau tidak. Bahkan, Lia Eden disetarakan kedudukannya dengan Nabi Muhammad saw. Padahal,Nabi Muhammad saw adalah Nabi sejati.

Menurut kaum pemuja paham Kebebasan, keyakinan keagamaan seseorang harus dilindungi, kerana itu masuk dalam arena “forum internum” (ruang individu). Yang boleh dibatasi oleh negara hanyalah “forum externum”(ruang umum/publik). Selama mana tidak mengganggu ketertiban umum, misalnya, maka hak untuk mengekspresikan keyakinan keagamaan seseorang harus dilindungi. Keyakinan dan hak kaum Ahmadiyah untuk mengekspresikan dan menyebarkan ajaran agamanya harus dilindungi, sebab mereka juga manusia yang punya hak yang sama dengan kaum beragama lainnya.

Di sinilah letak nilai tidak masuk akalnya logik kaum pemuja paham Kebebasan ini. Mereka hendak memaksakan agar semua kaum Muslim bersikap “neutral agama” dalam melihat sesuatu. Ketika melihat soal agama, meskipun secara formal mengaku muslim, golongan ini melepaskan dirinya dari keislamannya sendiri. Dia berfikir dan bersikap neutral. Dia tidak mahu menentukan mana yang salah dan mana yang benar. Semuanya dianggap sama. Tidak ada istilah mukmin, kafir, muslim, sesat, dan sebagainya. Bagi mereka, semuanya sama. Yang penting agama. Maka, tidak aneh, jika mereka akan sampai kepada kesimpulan, bahawa kedudukan Nabi Muhammad saw disamakan dengan Lia Eden, Mirza Ghulam Ahmad, Mosadeg, dan nabi-nabi palsu lainnya.

Bagi kelompok seperti ini, yang terpenting adalah “Kebebasan”, bukan Kebenaran. Tentu saja, fahaman ini sangat rosak. Jika seorang menganut fahaman seperti ini, bubarlah ‘Islamic worldview’ atau pandangan-alam Islam-nya.

Pandangan alam, menurut Prof. Muhammad Naquib al-Attas adalah “Islamic vision on truth and reality”. Seorang muslim pasti memiliki pandangan-alam yang berbeza dengan orang kafir. Bagi seorang muslim, Muhammad saw adalah seorang Nabi yang ma’sum. Maka, wahyu yang disampaikan oleh Allah kepada beliau (al-Quran) adalah benar. Bagi kaum Yahudi, Muhammad saw bukanlah Nabi, tetapi pembohong, kerana mengaku menerima wahyu yang ditulisnya dari sumber kitab-kitab Yahudi. Kerana itulah, Dr. Abraham Geiger, seorang tokoh Yahudi Liberal, menulis buku “What did Muhammad Borrow from Judaism”.

Kaum Nasrani pasti juga tidak mengakui Muhammad saw sebagai Nabi dan al-Quran sebagai wahyu. Sebab, jika mereka mengakui itu, sama seperti dengan menyatakan, bahawa agama mereka adalah salah.

Kerana al-Quranlah, satu-satunya Kitab yang secara sangat terperinci menjelaskan kekeliruan fahaman keagamaan kaum Yahudi dan Nasrani. Hanya al-Quranlah satu-satunya Kitab Suci yang menegaskan posisi Nabi Isa a.s. sebagai Nabi dan Rasul Allah, bukan sebagai Tuhan, anak Tuhan, atau salah satu dari Tiga Orang dalam Triniti.

Kerana itu, dalam perspektif Islamic worldview ini, kita sering kebingungan dengan posisi kaum Pemuja Kebebasan, dimanakah sebenarnya posisi mereka? Islam bukan; Kristian bukan, Yahudi bukan; Hindu, Buddha juga bukan! Lalu di mana posisi mereka?

Posisi mereka adalah neutral agama. Posisi tidak beragama. Ertinya, meskipun mereka mengaku beragama, tetapi mereka tidak mahu menggunakan ajaran agamanya sebagai dasar untuk memandang atau menilai realiti kehidupan. Agama adalah urusan peribadi antara dirinya dengan Tuhan. Agama adalah laksana baju. Bila-bila saja boleh ditukar atau diganti. Ketika masuk istana atau ruang sidang parlimen, agama harus diletak di luar ruangan. Jangan dibawa masuk. Ketika mengajar falsafah, agama jangan dibawa. Sebab, falsafah adalah berfikiran bebas, sebebas-bebasnya di luar batas agama. Ketika membahas masalah kebebasan, agama juga harus disingkirkan. Fahaman seperti inilah yang dipuja-puja dan dibanggakan, yang katanya melahirkan manusia hebat dan bermartabat.

Dalam perspektif Islam, fahaman neutral agama jelas keliru.

8 Responses to “Kenapa pendokong Islam Liberal bela Salman Rusdie ?”

  1. kunyit hidup

    Sep 11. 2011

    Tak ada selera tengok muka LIA EDEN ni…….Pelacur Thailand 100% lagi cun oooo. Lia Eden ni beruk pun tak ada selera nak tibai dia.

    Reply to this comment
  2. Mr.Nunusaku

    Aug 03. 2011

    Mengapa mereka mendukung Salman Rusdi..? karena mereka melihat kebenaran dinyatakan, karena islam berada dan bersembunyi dibalik kebohongan…? karena islam tetap memuja kebohongan Muhammad,
    Moralnya seperti pendusta demi agama ciptaannya, dia tetap dipuja oleh muslim karena mereka termasuk golongan orang-orang berpenyakit jiwa. Apakah memang umat islam telah mengetahui siapa nabinya..? ataukah pura-pura bodoh dan tetap tertipu dengan ajaran uztad yang mengatakan moral Muhammad yang sangat muliah, sedangkan keburukan moral Muhammad tetap tertutup mati…?

    Anda setiap muslim harus banyak belajar dan menyelidiki tentang ‘BUKU KEHIDUPAN RAHASIA NABI MUHAMMAD..? muslim selalu tertutup dalam segala hal tentang siapa nabi mereka…moral Muhammad yang sukah bersinah dengan Mariyah, pedopfile dengan anak umur 9 tahun Aisyah, perampas istri anak angkatnya Zaid…lalu membuat wahyu buatan Muhammad agar Zaineb dapat dinikahih…inilah moral yang muliah dari nabimu…? jangan bersembunyi dibalik kebohongan dan kebohongan itu akan dinyatakan dalam kebenaran. Bau busuk nabi pejad Muhammad bin Abdulah telah terciuam karena mereka menyelidiki siapa Muhammad yang sebenarnya….seperti kata Ali Sinah dari Iran mengatakan;

    MUHAMMAD ADALAH MANUSIA YANG BERPENYAKIT JIWA DIPUJA OLEH UMAT ISLAM YANG BERPENYAKIT JIWA…inilah kualitas dari manusia islam yang berpenyakit jiwa.

    Reply to this comment
    • taufan

      Aug 03. 2011

      Mr. Nunusaku, anda sakit jiwa ke apa? Kaji dulu diri anda kerana anda selayaknya duduk dalam gua di zaman batu….

      Reply to this comment
      • kunyit hidup

        Sep 11. 2011

        Jangan dilayan Si-MURTAD ni….Habiskan beras aje…kebenaran yang hakiki adalah benarkan Mak Hang DILIWAT.

        Reply to this comment
    • ISA

      Sep 08. 2011

      Wahai Mr.Nunusaku, Tuhan kamu dan Tuhan aku adalah Allah, Tiada sekutu bagi-Nya. Dialah Allah, Zat yang telah mengutus Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul dari Nabi Adam a.s hinggalah Nabi Muhammad s.a.w sebagai penutup sekalian nabi kerana agama yang Allah suka telah lengkap (dipanggil Islam). Maka tiada nabi lagi akan diutus hingga kiamat.

      Jika Mr.Nunusaku yang ‘Tak Sakit Jiwa’ berasa sakit jiwa terhadap kemuliaan Nabi Muhammad s.a.w dan mula menghina peribadi Baginda yang sememangnya mulia di sisi umat Islam, ini memang sudah menjadi sifat orang-orang yang Allah Taala firmankan – …dan Kami jadikan di hadapan mereka penutup, dan di belakang mereka penutup, maka Kami kelubungi mereka, maka mereka tidak dapat melihat (kebenaran) (Yaasin , 9)

      Persoalannya, mengapa Mr.Nunusaku membaca ‘BUKU KEHIDUPAN RAHASIA NABI MUHAMMAD..?’ siapapun pengarangnya sudah tentu seorang yang tidak melihat kebenaran juga.

      Menarik sekali terdapat lebih 1 billion manusia yang ‘berpenyakit jiwa’ semata-mata beriman kepada Allah dan Rasul-Nya yang akhir. Sedangkan yang ‘berpenyakit jiwa’ ini TIDAK PERNAH menghina Nabi-Nabi yang terdahulu termasuklah Nabi Isa a.s

      Malah hanya terdapat beberapa orang sahaja yang perasan tak sakit jiwa ini mengatakan perkara-perkara yang kotor terhadap Nabi yang mulia

      Nampak jelas akan kesakitan jiwa Mr.Nunusaku melihat berkembangnya agama Islam yang hak berbanding lumpuhnya perkembangan agama Kristian. Satu kenyataan yang mungkin akan menyebabkan Mr.Nunusaku dan pendokongnya yang ‘Tak Sakit Jiwa’ merasa lebih sakit jiwa dan mula menuduh Muslim bertambah sakit jiwa

      ;-).

      Reply to this comment
    • anonymmous

      Dec 27. 2013

      too bad cz someone like you nak judge rasulullah Muhammad S.A.W.dah ckup ke ilmu kt dada smpai mghna baginda?islam adalah agama kbenaran.kalau la anda ni hbat sgt,i dare you mngubah ayt2 alquran.smpai kiamat pom anda xmmpu.smoga Allah mmberikan anda pengampunan.

      Reply to this comment
  3. Angela

    Oct 30. 2010

    There is a pdf on the laws in UK in defence of Rushdie (this one is under an international committee (sama lah macam Al Juburi style yang suka sangat dengan perkataan “international” ni yang menyokong kes liwatnya). Please download and read. It is about blasphemy etc.
    http://www.article19.org/pdfs/publications/crime-of-blasphemy.pdf
    You can also read in the same pdf article on Section 4.10 THE GAY NEWS CASE 1977. So, somehow the gay (juburi) is also implicated.
    We in the East are normally not familiar with Western literature. In the West, literature is a channel used to express opinions. At one time the Church was supreme, and those who were against the Church had organized themselves in so many ways in order to protest – there were the mysterious secret societies e.g. Freemasonry etc which were mobilized against the Church. Many literary figures were very active by spreading their protest through literature. One very famous figure was DANTE (or Dante Aligheri). Dante inilah yang dikatakan menjadi model ikutan bagi Rushdie untuk menulis karya Satanic Verses. Dante menulis buku Divine Comedy, The Inferno, Purgatorio, Paradiso etc – yang mana elemen-elemen karya Dante terdapat dalam buku Satanic Verses. Bagi seorang schizophrenic, yang mana dirinya atau personalitinya sudah berpecah akibat bisikan Iblis (refer to Satanic Voices by David Musa Pidcock), maka itulah yang telah menghasilkan karya gila berjudul Satanic Verses. Sedangkan ayat-ayat Qur’an merupakan mutiara yang sangat bermakna, tetapi melalui bisikan Iblis, Rushdie telah menghina Qur’an dan nabi Muhammad ke tahap yang terlalu jijik. Biasanya penulisan sebegini dilakukan oleh para cendikiawan nasrani yang terlalu benci kepada Islam. Salman Rushdie mengambil pendekatan yang sama untuk menghina Islam, sebab itulah dia dipuja dan diberikan penghormatan oleh kumpulan crusaders di Barat.
    Di zaman Akhir ini, jangan hairanlah akan terdapat mereka yang meninggalkan Islam dan menghina Islam, kerana Nabi pernah berpesan: “Ramai di kalangan umatku akan mengikut Dajjal.”

    Reply to this comment
  4. Angela

    Oct 29. 2010

    1) To Seri Panji: I have been studying on these subjects for years, and I have a strong basis for what I write. I stand for what I believe, based on my own long-term study.
    2) As for Salman Rushdie, he is proven clinically as schizophrenic, what kind of people want to follow this insane guy? Great thinkers in the West praise the Holy Prophet – e.g. Goethe (who said: IF THIS IS ISLAM, ARE WE NOT IN ISLAM?), and many others. Manly P Hall, the great Masonic writer wrote a very interesting (pro-Islam) chapter on Islam and Muhammad. And George Bernard Shaw had this to say about Islam and Muhammad:
    “I have always held the religion of Muhammad in high estimation because of its wonderful vitality. It is the only religion which appears to me to possess that assimilating capability to the changing phase of existence which can make itself appeal to every age. The world must doubtless attach high value to the predictions of great men like me. I have prophesied about the faith of Muhammad that it would be acceptable to the Europe of tomorrow as it is beginning to be acceptable to the Europe of today. The medieval ecclesiastics, either through ignorance or bigotry, painted Muhammadanism in the darkest colours. They were in fact trained both to hate the man Muhammad and his religion. To them Muhammad was Anti-Christ. I have studied him — the wonderful man, and in my opinion far from being an Anti-Christ he must be called the Saviour of Humanity. I believe that if a man like him were to assume the dictatorship of the modern world he would succeed in solving its problems in a way that would bring it the much-needed peace and happiness. But to proceed, it was in the 19th century that honest thinkers like Carlyle, Goethe and Gibbon perceived intrinsic worth in the religion of Muhammad, and thus there was some change for the better in the European attitude towards Islam. But the Europe of the present century is far advanced. It is beginning to be enamoured of the creed of Muhammad.”
    Jadi, kalau si schizophrenic Salman tu menghina Nabi dan Islam, memang patut orang Islam menentangnya. Orang macam Salman dan banyak lagi yang munafiq diberikan penghormatan oleh institusi kafir. Itu tidak menghairankan. Tetapi Islam sedang bertapak dan subur di Barat dan mereka sangat khuatir dengan perkembangan ini, dan sebab itu mereka lakukan 911 (Jesuits dan Opus Dei), kemudian mereka salahkan Osama (talibarut CIA), dan mencari alasan untuk menyerang Afghanistan dan Iraq (mereka hantar pengganas nasrani (Blackwater mercernaries: Jesuits dan Opus Dei), dan sekarang mereka cuba nak serang Iran, dan musnahkan Pakistan. Negara-negara ini terletak di sebelah timur semenanjung Arabia, dan negara-negara ini merupakan kawasan KHORASAN – iaitu di mana akan timbulnya Mahdi! Sebab itu kawasan ini sedang bergolak kerana Barat amat takut akan kebangkitan Islam melalui Mahdi. Dan banyak talibarut dan badut-badut Barat (termasuk Anwar Al Juburi) sedang digerakkan untuk menghancurkan Islam dari dalam. Salman pun antara badut-badut tersebut.

    Reply to this comment

Leave a Reply

Optimization WordPress Plugins & Solutions by W3 EDGE